Makassar, 17 Juli 2026 — Tim dosen Universitas Negeri Makassar (UNM) melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui edukasi dan praktik pembuatan komposter dua susun sebagai upaya mendorong pengelolaan limbah organik rumah tangga. Kegiatan dilaksanakan di Laboratorium Kebun Percobaan Biologi, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UNM, dengan mengangkat tema “Edukasi dan Praktik Pembuatan Komposter Dua Susun bagi Mahasiswa Jurusan Biologi sebagai Upaya Pengelolaan Limbah Organik Rumah Tangga.” Kegiatan ini didukung melalui pendanaan PNBP Universitas Negeri Makassar Tahun Anggaran 2026 dan diikuti oleh 20 peserta.
Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan oleh Dr. Ir. St. Fatmah Hiola, S.P., M.Si. selaku ketua tim, bersama Prof. Dr. Drs. Abd. Muis, M.Si., Dr. Ir. Muhammad Wiharto, M.Si., Dr. Erona Wafaretta, S.Si., M.Agr., dan Deni Frans Sakka, S.Pd., M.Biotech. selaku anggota. Kegiatan dirancang sebagai bentuk edukasi sekaligus pemberian pengalaman praktis dalam pengelolaan limbah organik melalui teknologi komposter sederhana. Pendekatan ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih aplikatif mengenai bagaimana limbah organik yang dihasilkan dari aktivitas sehari-hari dapat dikelola dan dimanfaatkan melalui proses pengomposan.

Rangkaian kegiatan diawali dengan pretest untuk mengetahui tingkat pengetahuan awal peserta mengenai pengelolaan limbah organik dan prinsip kerja komposter. Selanjutnya, tim pengabdi memberikan edukasi mengenai permasalahan limbah organik rumah tangga, prinsip dasar pengomposan, jenis bahan yang dapat digunakan, serta faktor-faktor yang perlu diperhatikan selama proses penguraian. Materi mencakup pemahaman mengenai bahan hijau dan bahan cokelat, keseimbangan komposisi, ukuran bahan, kelembapan, serta aerasi yang berperan dalam mendukung proses penguraian bahan organik.



Setelah memperoleh materi, peserta kemudian terlibat langsung dalam praktik pembuatan komposter dua susun. Komposter dibuat menggunakan dua buah ember yang disusun secara bertingkat, dengan ember bagian atas berfungsi sebagai ruang penguraian bahan organik dan ember bagian bawah sebagai tempat penampungan cairan hasil proses penguraian. Dalam praktik tersebut, peserta juga membuat lubang aerasi dan drainase menggunakan solder serta memasang keran pada bagian bawah ember untuk memudahkan pengeluaran cairan. Penggunaan bahan dan peralatan yang sederhana menjadi salah satu aspek penting dalam kegiatan karena memungkinkan teknologi tersebut untuk diterapkan secara lebih mudah pada skala rumah tangga.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan praktik pengisian dan pencampuran bahan organik ke dalam komposter. Peserta menggunakan berbagai bahan organik yang mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, seperti sisa sayuran dan kulit buah sebagai bahan hijau serta daun kering, sekam, dan serbuk gergaji sebagai bahan cokelat. Peserta secara langsung mempraktikkan pencampuran bahan dengan memperhatikan ukuran bahan, kelembapan, keseimbangan komposisi, dan aerasi. Melalui kegiatan tersebut, peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai pengomposan, tetapi juga mendapatkan pengalaman langsung dalam menerapkan prinsip pengelolaan limbah organik.
Penggunaan komposter dua susun dalam kegiatan ini menjadi salah satu bentuk pengenalan teknologi sederhana yang dapat dimanfaatkan untuk mengurangi limbah organik dari sumbernya. Sistem tersebut memungkinkan bahan organik dikumpulkan dan mengalami proses penguraian pada bagian atas, sementara cairan hasil proses penguraian ditampung pada bagian bawah. Dengan konstruksi yang sederhana dan menggunakan bahan yang relatif mudah diperoleh, komposter ini memiliki potensi untuk direplikasi dan diterapkan di lingkungan rumah tangga.
Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta setelah mengikuti kegiatan. Rata-rata skor pengetahuan meningkat dari 52,00 pada pretest menjadi 89,00 pada posttest, atau mengalami peningkatan sebesar 37 poin. Seluruh peserta yang mengikuti evaluasi mengalami peningkatan skor setelah memperoleh edukasi dan praktik. Hasil uji Wilcoxon Signed-Rank juga menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara skor sebelum dan sesudah kegiatan dengan nilai p < 0,001, yang menunjukkan bahwa rangkaian edukasi dan praktik memberikan hasil positif terhadap peningkatan pengetahuan peserta.
Peningkatan pengetahuan tersebut menunjukkan bahwa penyampaian materi yang disertai pengalaman praktik dapat menjadi pendekatan yang efektif dalam memperkenalkan pengelolaan limbah organik. Peserta memperoleh kesempatan untuk memahami konsep pengomposan sekaligus melihat dan mempraktikkan secara langsung proses pembuatan komposter, mulai dari perakitan wadah hingga pengisian bahan organik. Meskipun demikian, evaluasi kegiatan masih berfokus pada perubahan pengetahuan selama kegiatan dan belum mencakup pemantauan penerapan komposter secara berkelanjutan setelah kegiatan selesai. Oleh karena itu, keberlanjutan penggunaan komposter di lingkungan masing-masing masih menjadi aspek yang perlu dikembangkan melalui kegiatan pendampingan atau evaluasi lanjutan.
Melalui kegiatan ini, tim pengabdi UNM berupaya memperkuat pemahaman dan keterampilan masyarakat dalam mengelola limbah organik dengan memanfaatkan teknologi yang sederhana dan mudah diterapkan. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi salah satu bentuk kontribusi sivitas akademika UNM dalam mendukung peningkatan kesadaran dan keterampilan masyarakat terhadap pengelolaan lingkungan. Dukungan pendanaan PNBP Universitas Negeri Makassar Tahun Anggaran 2026 menjadi bagian penting dalam pelaksanaan kegiatan ini, yang diharapkan dapat memberikan manfaat dan mendorong penerapan pengelolaan limbah organik secara lebih berkelanjutan.
